EKONOMI BISNIS

BI Jatim Prediksi Devisa Ekspor Meningkat

Laporan Agustina Suminar | Selasa, 14 Januari 2020 | 20:26 WIB
Difi A Johansyah Kepala Perwakilan BI Jatim di Grand City Mall, Surabaya, Jumat (8/11/2019). Foto: Antara
suarasurabaya.net - Bank Indonesia Jatim memprediksi devisa hasil ekspor dari Jawa Timur berpotensi meningkat, karena adanya proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada 2020, yakni antara 5,3 hingga 5,8 persen.

Difi Ahmad Johansyah Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim di Surabaya, Selasa (14/1/2020) mengatakan, kondisi ekspor Jatim saat ini masih punya banyak potensi yang dikembangkan, salah satunya dari hasil produksi UMKM.

Ia menyebut, hingga Oktober 2019 DHE mencapai rerata 94,83 persen dari nilai ekspor, dengan kontribusi terbesar DHE dari ekspor Jatim yang menjadi sumber utama pasokan valas Indonesia.

"Jatim masih menjadi yang paling unggul dalam hal kontribusi ini. Semoga ke depannya semakin bisa tumbuh," katanya dilansir Antara.


BI, kata dia, mendorong pelaporan DHE dan ditukarnya DHE ke dalam mata uang rupiah, dan menyarankan agar pengusaha semakin gemar menggunakan mata uang lain selain dolar AS.

"Pengusaha bisa menggunakan mata uang lain, semisal Ringgit Malaysia (MYR) dan Baht Thailand (THB), sebab saat ini sudah ada 24 bank yang ditunjuk sebagai Bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD), sehingga transaksi akan semakin mudah," katanya.

Ia mencatat, sejauh ini sudah ada 12 eksporter dan 7 importer yang memanfaatkan local currency settlement (LCS) ini, dan terdiri dari 9 importer pengguna MYR serta 3 importer pengguna THB.

Sementara itu, ada 5 eksporter pengguna MYR dan 2 eksporter pengguna THB.

"Semoga semakin banyak pengusaha kita yang menggunakan LCS ini, sehingga ketergantungan terhadap USD bisa berkurang," katanya.

Di sisi lain, Difi juga menyarankan agar pengusaha selalu melakukan lindung nilai (hedging).

"Pemenuhan transaksi hedging di Jatim sendiri sudah di atas 95 persen sepanjang tiga tahun terakhir. Hal ini menunjukkan pengusaha semakin peka terhadap kemungkinan volatilitas nilai tukar," katanya.(ant/tin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.