EKONOMI BISNIS

Lima Sektor Bisnis yang Bisa Jadi Incaran di Era 4.0

Laporan Agustina Suminar | Sabtu, 30 November 2019 | 10:14 WIB
Ilustrasi.
suarasurabaya.net - Memasuki Revolusi Industri 4.0, atau bahkan sudah bergerak menuju era 5.0, Jamhadi Mantan Ketua Kadin Surabaya mengatakan kaum milenial memiliki peran yang besar dalam perkembangan industri di Indonesia.

Apalagi Joko Widodo Presiden mencanangkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, kenaikan tingkat kompetitif yang nantinya berujung pada produktifitas yang meningkat. Jamhadi mengatakan, pengusaha muda harus fokus pada industri yang tepat dan pintar memiliki celah kebutuhan di masyarakat.

"Apa yang digariskan, kita terapkan dengan 5 sektor utama yang dipilih jadi fokus agar marketing di Indonesia 5.0 sukses," ujar Jamhadi kepada Radio Suara Surabaya, Sabtu (30/11/2019).

Yang pertama, adalah sektor makanan dan minuman. Menurutnya, sektor bisnis ini menjadi incaran yang tepat karena tingkat konsumsi masyarakat menyumbang 53 persen dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.


"Dalam konteks ini konsumsi (menyumbang) 53 persen dari pertumbuhan ekonomi kita. Untuk itu perlu ada kedaulatan pangan nasional," tambahnya.

Sektor bisnis kedua adalah fesyen. Menurutnya, lini usaha busana atau tekstil memiliki harapan yang besar karena fesyen selalu memiliki tren tersendiri.

Ketiga, pengusaha-pengusaha muda sudah saatnya untuk melirik lini bisnis di bidang otomotif.

"Kita juga harus fokus mulai dari spare part dan desain-desain lain yang lebih inovatif dan kreatif," imbuhnya.

Sektor bisnis keempat yang perlu jadi incaran adalah bidang chemical atau produk kimia, terutama adalah produk obat-obatan.

"Chemical juga begitu, sebesar 95 persen kita masih impor obat. Jadi ini yang perlu adik-adik milenial ambil bagian terdepan," kata Jamhadi.

Kelima adalah lini bisnis elektronik. "Dengan ICT (Information and Communications Technology) yang cukup besar, kita belanja disitu sudah Rp1 triliun dalam satu tahun," tambahnya.

Jamhadi juga memberikan catatan penting bagi para calon pengusaha muda yang akan menjalankan entrepreneurship-nya. Salah satunya mengambil usaha dengan mengembangkan produk dalam negeri. Selain itu, selalu memiliki inovasi dan kreatifitas dalam mengembangkan suatu produk/jasa.

Calon pengusaha milenial ini juga perlu untuk menimbang dengan matang potensi dan peluang bisnis yang akan dijalankan. Seperti halnya mengumpulkan data-data tentang ketertarikan konsumen tentang produk/jasa yang akan ditawarkan.

"Mulai dari survei, mendata dan memilih produk lokal yang diuatamakan. Nanti sambil jalan melakukan improvement (perbaikan, red) apa saja yang dibutuhkan dalam konsumsi kita," katanya.

Namun Jamhadi juga menuturkan, bahwa langkah untuk mengimpor produk terkadang tidak bisa dihindari, karena langkah impor juga menjadi bagian dari proses pengembangan perusahaan.

"Impor terkadang memang jadi bagian dari bertumbuhnya perusahaan. Fokus saja pada tahapan-tahapan yang ada di depan mata, sampai kita punya planning (rencana). Dengan demikian Bubble Economy (memperdagangkan produk atau aset dengan harga yang lebih tinggi daripada nilai fundamentalnya) tidak terjadi dan bisnis tetap going on (berjalan)," paparnya.(tin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA