EKONOMI BISNIS

MoU Kilang Minyak Tuban Tertunda, Banyak Lahan Warga Belum Ditaksir

Laporan Denza Perdana | Senin, 23 September 2019 | 13:46 WIB
Joko Widodo Presiden beserta rombongan meninjau Kilang Minyak TPPI di Tuban, Jawa Timur, pada tahun 2015. Foto: Biro Pers Setpres
suarasurabaya.net - Penandatangan nota kesepahaman (MoU) antara Pemprov Jatim dengan PT Pertamina soal pembangunan kilang minyak baru, grass root refinery (GRR) Pertamina-Rosneft di Tuban, tertunda.

Setiajit Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur mengatakan, penandatangan MoU dengan Pertamina seharusnya dilakukan pekan lalu. Pemprov Jatim merasa perlu adanya perubahan kesepahaman.

Perlu diketahui, kilang minyak berkapasitas 300 ribu barel minyak per hari kerja sama PT Pertamina dengan Rosneft (Rusia) dengan nilai investasi Rp230 triliun itu butuh lahan seluas hampir 1.000 hektare.

Kebutuhan lahan kilang minyak ini mencapai 936 hektare. Rinciannya, sudah ada 348 hektare milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 109 hektar milik Perhutani, 314 hektar milik warga, dan 165 hektare reklamasi.


Setiajit menjelaskan, Pertamina sudah menuntaskan lahan milik KLHK. Lahan milik Perhutani, dalam waktu dekat juga segera ditukar guling dengan nilai dua kali lipat. Yang belum tuntas adalah lahan milik warga.

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim, kata Setiajit, minta Pertamina dan BPN segera melakukan penaksiran (appraisal) lahan warga terdampak, dan segera membayar warga yang sudah sepakat.

Sampai sekarang, kata Setiajit, Pertamina memang belum menuntaskan penaksiran lahan milik warga. Karena itu belum satu pun lahan warga terdampak di Kecamatan Jenu yang sudah dibayar Pertamina.

"Kami sepakat melakukan sejumlah perubahan MoU. Bu Gubernur minta penandatanganan ini digelar di lapangan. Disaksikan seluruh warga, baik yang pro maupun yang masih kontra," kata Setiajit, Senin (23/9/2019).

Setiajit mengakui, masih ada masyarakat yang kontra dengan rencana pembangunan kilang minyak baru ini. Kata dia, masyarakat khawatir kalau lahan mereka dibeli Pertamina mereka tidak bisa bekerja.

Selama ini warga di sana memang hidup dari pertanian. Setiajit tegaskan, Pemprov tidak mungkin tidak memikirkan ini. Pertamina pun, kata dia, sepakat untuk turut mengembangkan dan meningkatkan skill masyarakat terdampak.

"Pertamina sudah menyatakan kesanggupan memberi pelatihan dan permodalan bagi warga yang lahannya terdampak," ujar Setiajit.

Pengerjaan tahap pertama kilang minyak baru di Tuban ini akan menyerap 20 ribu orang pekerja. Pemprov Jatim berjanji, warga Tuban akan dilibatkan. Juga ketika kilang minyak sudah beroperasi, tenaga kerja Tuban akan banyak terserap.

Kalau tahun ini pengadaan lahannya beres, tahun depan tahap pengurukan lahan dan reklamasi akan dikerjakan. Proyek kilang minyak Tuban ini ditargetkan sudah bisa beroperasi pada 2024 mendatang.

"Proyek ini akan meningkatkan ekonomi di Tuban. 300 ribu barel minyak per hari itu tidak sedikit, maka uang itu akan beredar banyak di sini. Selain itu juga akan ada 16 industri turunan refinery ini. Belum lagi penyokong makan, minum dan seterusnya, sektor lain akan tumbuh," kata Setiajit.(den/dwi/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.