EKONOMI BISNIS

Trump Ancam Kenakan Tarif Lebih Banyak Pada China

Laporan Agustina Suminar | Selasa, 11 Juni 2019 | 10:23 WIB
Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan saat ia berangkat untuk melakukan perjalanan ke Jepang dari Gedung Putih di Washington, AS, 24 Mei 2019. Foto: Reuters
suarasurabaya.net - Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) mengatakan, jika ia tidak dapat membuat kemajuan dalam pembicaraan perdagangan dengan Presiden China pada pertemuan puncak Kelompok 20 (G20) akhir bulan ini, maka pada Senin (10/6/2019) bahwa ia siap untuk memberlakukan putaran lain tarif hukuman pada impor dari China.

Sejak dua hari perundingan untuk menyelesaikan sengketa perdagangan AS-China bulan lalu di Washington berakhir dengan jalan buntu, Trump berulangkali mengatakan ia berharap bertemu dengan Xi Jinping Presiden pada KTT 28-29 Juni di Osaka, Jepang. China sendiri belum mengkonfirmasi pertemuan semacam itu.

Trump mengatakan pekan lalu, dia akan memutuskan setelah pertemuan para pemimpin ekonomi terbesar dunia apakah akan melakukan ancaman untuk mengenakan tarif setidaknya 300 miliar dolar AS atas barang-barang impor dari China.

Dalam komentar kepada wartawan pada Senin (10/6/2019), Trump mengatakan dia masih berpikir pertemuan dengan Xi akan terjadi.


"Kami dijadwalkan untuk berbicara dan bertemu. Saya pikir hal-hal menarik akan terjadi. Mari kita lihat apa yang terjadi," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih dilansir Antara.

Amerika Serikat telah mengenakan tarif 25 persen untuk barang China senilai 250 miliar dolar AS.

Kementerian luar negeri China mengatakan pada Senin (10/6/2019), bahwa China terbuka untuk lebih banyak pembicaraan perdagangan dengan Washington. Tetapi menurutnya tidak ada yang mengumumkan tentang kemungkinan pertemuan.

Ketegangan antara Washington dan Beijing meningkat tajam pada Mei setelah pemerintah Trump menuduh China telah mengingkari janji untuk membuat perubahan ekonomi struktural selama berbulan-bulan pembicaraan perdagangan.

Amerika Serikat sedang mencari perubahan besar, termasuk diakhirinya transfer teknologi paksa dan pencurian rahasia dagang AS. Mereka juga ingin membatasi subsidi untuk perusahaan milik negara China dan akses yang lebih baik untuk perusahaan-perusahaan AS di pasar China.

Pada 10 Mei Trump menaikkan tarif 200 miliar dolar AS barang-barang China menjadi 25 persen dan mengambil langkah untuk memungut bea tambahan 300 miliar dolar AS atas impor dari China. Beijing membalas dengan kenaikan tarif pada daftar revisi 60 miliar dolar AS barang-barang AS.

Pemerintah AS juga membuat marah China dengan memasukkan Huawei Technologies Co Ltd ke dalam daftar hitam yang secara efektif melarang perusahaan-perusahaan AS untuk melakukan bisnis dengan perusahaan China, pembuat peralatan telekomunikasi terbesar di dunia.

Investor khawatir China akan membalas dengan menempatkan perusahaan-perusahaan AS dalam daftar hitam atau melarang ekspor logam-logam tanah jarang ke Amerika Serikat, yang digunakan dalam produk-produk seperti chip memori, baterai isi ulang, dan ponsel.

Fitch Ratings mengatakan pada Senin (10/6/2019) setiap langkah seperti itu akan mengganggu sektor teknologi AS dan dapat merugikan beberapa sektor China juga, meskipun ia menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk menilai potensi implikasi pada peringkat kredit.

Dalam sebuah wawancara dengan CNBC, Trump mengatakan perselisihan Huawei dapat diatasi sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan dengan China.

Meningkatnya perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia telah membuat pasar keuangan gelisah dengan kekhawatiran bahwa hal itu dapat mengganggu lebih lanjut manufaktur global dan rantai pasokan serta mendorong ekonomi global yang sudah melambat ke dalam resesi.

Pada Minggu (9/6/2019), Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mengatakan penyelesaian ketegangan perdagangan saat ini harus menjadi prioritas utama bagi ekonomi G20.

China melaporkan pada Senin (10/6/2019) bahwa ekspornya secara tak terduga tumbuh 1,1 persen pada Mei dari tahun lalu meskipun tarif AS lebih tinggi, tetapi impor turun paling besar dalam hampir tiga tahun. Beberapa analis mencurigai eksportir China mungkin telah melakukan pengiriman ke Amerika Serikat untuk menghindari potensi tarif baru AS.(ant/tin)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.