EKONOMI BISNIS

Perkiraan Gonjang Ganjing Ekonomi 2019, ala Faizal Basri

Laporan Zumrotul Abidin | Rabu, 05 Desember 2018 | 22:30 WIB
Suasana Suara Surabaya Economic Forum 2019, Rabu (5/12/2018). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Faisal Basri pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia memperkirakan gonjang-ganjing ekonomi yang berkaitan dengan agenda politik di Indonesia akan terjadi sampai Maret 2019. Paling lama sampai bulan Juni 2019 mendatang.

Dalam pemaparannya di Suara Surabaya Economic Forum (SSEF) 2019, Rabu (5/12/2018) Faisal Basri sempat mengkritik Luhut Binsar Panjaitan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, yang menyatakan nilai rupiah meningkat karena kinerja pemerintah.

Rupiah menguat kata dia bukan karena itu sebab sesungguhnya perusahaan asing lebih banyak membeli Surat Utang Negara yang selama dua minggu terakhir nilainya mencapai 3 miliar US Dolar. Nilai Rupiah ini menguat namun menurut Faisal hanya dalam waktu pendek saja.

Dia memperkirakan laju inflasi Indonesia pada 2019 akan naik menjadi 5 persen dari 3 persen tahun ini, karena BBM dan Listrik harus naik. Jika Jokowi menang Faisal memperkirakan, tidak perlu menunggu dilantik harga BBM dan listrik akan naik pada bulan Mei atau Juni 2019.

Meski demikian, surplus diprediksi akan terjadi di bidang Pariwisata, sebab pariwisata Indonesia sudah surplus 4 miliar US dolar pada 201.

Dia mengingatkan, pariwisata ini tidak bisa digenjot terus menerus mengingat sampai Oktober 2018 pertumbuhannya hanya 12 persen.

"Untuk pariwisata masih bagus ya, sedangkan soal Tenaga Kerja Indonesia menjadi secondary income Indonesia. ketika Indonesia harus merayu perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia membawa laba pulang ke negaranya sampai 4 miliar US Dolar, TKI membawa masuk 4,8 miliar US dollar bagi Indonesia," terangnya.

Karena nilai pemasukan devisa tertinggi dari TKI, seharusnya ketika mereka pulang harus disambut dengan karpet merah.

Dalam kesempatan ini, Faisal juga sempat menyarankan agar para eksportir mencermati pertumbuhan ekonomi China yang dia perkirakan akan terus menurun.

Penurunan pertumbuhan ekonomi china yang pada tahun sebelumnya 6,9 persen, tahun ini 6,7 persen tahun depan dia perkirakan 6,2 persen akan mempengaruhi perilaku pebisnis di Indonesia. China akan lebih sedikit mengambil bahan baku dari Indonesia.

Ttidak lupa, Faisal Basri menyoroti upaya pemerintah pada 2018 yang besar-besaran membangun infrastruktur tapi penerimaan pajaknya tidak meningkat.

"Utang menjadi pilihan pemerintah, dan asing membaca ini dengan menaikkan bunga atas utang Indonesia," kata pengamat Ekonomi ini.

Solusinya. Industri dalam negeri harus ditumbuhkan sehingga berdampak juga pada penerimaan pajak yang juga akan naik. (din/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.