EKONOMI BISNIS

‎Pidato Jokowi di IMF-WB Mengagumkan,Tinggi Filosofi, dan Dalam Maknanya

Laporan Muchlis Fadjarudin | Jumat, 12 Oktober 2018 | 14:19 WIB
Joko Widodo Presiden pada Acara Opening Plenary Pertemuan Tahunan IMF-World Bank, di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). Foto: Antara
suarasurabaya.net - Mukhamad Misbakhun anggota Komisi XI DPR RI hadir dalam Annual Meeting International Monetery Fund (IMF) dan World Bank (WB) di Bali.

Dia memperhatikan Pidato Joko Widodo (Jokowi) Presiden di acara tersebut.

Misbakhun menilai kalau isi pidato Jokowi Presiden di sidang tahunan IMF dan World Bank di Nusa Dua Bali yang mengutip jalan cerita dan simbolisme tokoh dalam film mini seri "Game of Thrones". Isinya penuh dengan simbolisme yang sarat makna.

"Seperti kita ketahui bahwa film mini seri "Game of Thrones" isi ceritanya adalah peperangan imajinatif yang didasarkan konflik kepentingan antar kekuatan besar yang saling mempertahankan arogansi kelompoknya sendiri. Terjadi peperangan besar yang merusak antar mereka. "Game of Thrones" adalah perang Mahabarata versi barat," ujar Misbakhun dalam pesan singkatnya, Jumat (12/10/2018)

Kata dia, Jokowi sebagai orang Jawa mempunyai filosofi hidup yang tinggi. Hal itu memperlihatkan sebuah kedalaman pemahaman sebagai tuan rumah sebuah hajatan besar sekelas IMF-World Bank Annual Meeting, menyampaikan pesan simbolisme membuat isi kepala para delegasi peserta IMF-WB Annual Meeting di Bali terkesima dan terkejut dengan cara Presiden mengambil simbolisme "Game of Thrones" atas konflik antara kepentingan dalam perang dagang yang sedang terjadi antara Amerika Serikat dan China. Ketidakseimbangan antara negara maju dengan negara berkembang.

"Konflik kepentingan ideologi liberalisme di Barat dan pemerataan di Timur. Pertentangan peradaban antara masyarakat modern di barat dan masyarakat tradisional di timur. Pertentangan antara kebaikan dan keburukan," jelasnya.

Yang utama, menurut Misbakhun, semua kubu kebaikan harus menyatu untuk mengalahkan keburukan demi menyelamatkan peradaban dunia.

Dia menjelaskan, pemilihan Jokowi menggunakan simbolisme film mini seri "Game of Thrones" adalah pilihan yang sangat tepat. Hampir seluruh peserta mengerti soal film mini seri tersebut.

Kata dia, pidato berbahasa Indonesia tapi dengan slide di layar berbahasa inggris membuat para hadirin terkesima karena pesan-pesan yang disampaikan dalam pidato tersebut.

"Perlunya negara besar pemain utama dunia untuk bersikap lebih adil lagi. Perlunya adanya kebersamaan untuk menghadapi ketidakadilan yang sudah berlangsung saat ini untuk segera di akhiri. Karena kalau tidak, maka kerusakan akibat yang ditimbulkan oleh ketidakadilan akan menimpa semuanya. Salah satunya adalah akibat dari perang dagang antara USA dengan China saat ini," tegasnya.

Misbakhun mengatakan, pidato Jokowi pun disambut dengan tepuk tangan yang diberikan oleh seluruh hadirin karena di setiap paragraf demi paragraf pesannya mengena.

"Pada akhir pidato Presiden, tepuk tangan yang panjang dan standing ovation terdengar dan terlihat dari seluruh peserta," kata Misbakhun.

"Saya menjadi saksi mata pidato Bapak Jokowi. Posisi duduk saya hanya terpisah empat baris kursi dari posisi pidato Bapak Presiden. Saya menangkap atmofir di ruang pertemuan. Suasana emosi dan kebatinannya saya rasakan," kata dia.

Bagi Misbakhun, isi pidato presiden menunjukkan "standing position" Indonesia sebagai negara yang berdaulat di depan organisasi sekelas IMF dan World Bank.

Jokowi, kata dia, ingin menyampaikan pesan bahwa Indonesia mempunyai sikap yang jelas dalam mengatur kedaulatan ekonominya. Pesan itu disampaikan dengan sangat halus tapi penuh makna lewat simbolisme "Game of Thrones", tidak ada keinginan menggurui sehingga isi pesan bisa sampai kepada para seluruh yang hadir.

"Ini adalah salah satu pidato terbaik Bapak Jokowi yang pernah saya lihat dan dengarkan," pungkas dia.(faz/tin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.