EKONOMI BISNIS

Dradjad Wibowo : Indonesia Jangan Kehilangan Momentum Ekonomi 2018

Laporan Muchlis Fadjarudin | Selasa, 09 Januari 2018 | 09:25 WIB
Dradjad Hari Wibowo Ekonom dari Sustainable Development Indonesia (SDI). Foto: Dok. suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Dradjad Hari Wibowo Ekonom dari Sustainable Development Indonesia (SDI) mengharapkan tahun 2018 ini Indonesia tidak kehilangan momentum pertumbuhan ekonomi.

Momentum ini muncul setidaknya karena dua faktor. Pertama, perekonomian global sedang menguat. Kedua, adanya 171 pilkada serentak yang berpotensi menguatkan daya beli dan konsumsi rumah tangga, terutama di daerah.

"Mari kita lihat dari sisi global. Kita tahu akhir-akhir ini pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan di tempat. Pada tahun 2014 hanya 5,01%, turun ke 4,88% (2015), lalu kembali ke 5,02% (2016). Tahun 2017, pertumbuhan terlihat tetap stagnan sekitar 5,00-5,05%," ujar Dradjad kepada suarasurabaya.net, Selasa (9/1/2018).

Menurut Dradjad, kondisi ini tentu memprihatinkan, karena ekonomi dunia sebenarnya sedang sangat positif. Zona Euro yang selama ini "sakit" misalnya, pada tahun 2017 tumbuh 2,6% yoy, tertinggi sejak Q1/2011. Purchasing Managers Index (PMI) Zona Euro mencapai 60,6, atau tertinggi sejak adanya PMI mulai Juni 1997.

Negara tetangga seperti Singapura tumbuh melejit ke 3,5%, atau hampir dua kali lipat dari perkiraan awal tahun! Bahkan pada kuartal 3/2017 ekonomi Singapura tumbuh 5,2%!

"Jarang-jarang Singapura bisa seperti ini. Perkiraan pertumbuhan global juga terus direvisi ke atas, terakhir sekitar 3,2%," jelasnya.

Dradjad yang juga anggota Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) ini menjelaskan, tren perdagangan global sedang sangat positif. Ini terlihat dari the Baltic Dry Index yang melonjak dari 900 pada awal 2017 menjadi 1400 pada akhir 2017.

Harga komoditi juga naik pesat. Bloomberg Commodity Spot Index (BCOMSP) saat ini berada pada level 358,4, tertinggi sejak 2016. BCOMSP adalah Indeks harga spot dari komoditas dunia. Selama 2017 BCOMSP naik 7,43%.

Bagi Indonesia, kata dia, BCOMSP merupakan indikator penting. Karena, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi oleh ekspor dan harga komoditas.

"Oleh sebab itu, jika harga komoditas tumbuh di atas 7%, namun ekonomi hanya tumbuh 5%, berarti di domestik ada yang salah," tegas Dradjad.

Di pasar keuangan, menurut dia, kondisinya pun sangat positif. Indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) sebuah indeks pertumbuhan pasar modal dunia melejit rata-rata 22% di 47 negara selama tahun 2017.

Dow Jones Industrial Average menembus 25000. Pasar modal mulai dari London hingga Tokyo ikut pecah rekor. Undang-undang pajak yang baru dari Donald Trump ikut memberi sentimen positif bagi pelaku pasar modal.

"Singkatnya, ekonomi global sedang menguat. Mayoritas pelaku dan analis pasar dunia juga cenderung optimistis melihat 2018. Memang ada risiko seperti tingkat dan tren utang China, kebijakan proteksionis Trump dan Brexit. Tapi secara umum, ekspektasi dunia sedang positif," kata dia.

Di sisi domestik, pada tahun 2018 akan ada 171 pilkada serentak. Memang ada risiko politik di sini. Namun saya melihat pilkada lebih bernilai positif bagi perekonomian.

"Kenapa? Karena belanja KPU dan calon Kepala Daerah bisa menguatkan daya beli dan konsumsi rumah tangga, terutama di daerah," kata Dradjad.

Dia menjelaskan, saat ini proporsi konsumsi rumah tangga adalah sekitar 55-56% PDB. Hitungan kasarnya, belanja pilkada bisa menyumbang tambahan pertumbuhan konsumsi sekitar 0,2-0,3%. Ini jika efek multipliernya tidak dihitung, yang mungkin cukup besar karena yang naik adalah konsumsi di daerah.

"Dengan dua faktor di atas, seharusnya Indonesia bisa mendobrak stagnansi pertumbuhan pada tahun 2018. Target 5,4% semestinya bisa relatif mudah dicapai," ujarnya.

Jika ingin lari lebih kencang, kata Dradjad, pemerintah memang perlu membenahi faktor domestik yang membuat kita kehilangan momentum tahun 2017. Contohnya antara lain kebijakan populis anti-bisnis dari beberapa beberapa kementerian serta kelemahan implementasi kebijakan ekspor dan investasi. (faz/ang)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.