EKONOMI BISNIS

Diskusi Gayeng di Suara Surabaya Economic Forum Next Level

Laporan Denza Perdana | Jumat, 15 Desember 2017 | 17:24 WIB
Seminar dan Diskusi Suara Surabaya Economic Forum The Next Level di Suara Surabaya Center Raya Bukit Darmo, Jumat (15/12/2017). Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Seminar dan Diskusi Suara Surabaya Economic Forum The Next Level di Suara Surabaya Center Raya Bukit Darmo, Jumat (15/12/2017), berlangsung gayeng.

Kresnayana Yahya Bisnis Analis dan Pakar Statistik sebagai narasumber memaparkan sejumlah data berkaitan kondisi ekonomi Indonesia, termasuk Jawa Timur.

Dari berkaitan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1 di Jatim, sampai perkiraan statistik. Menurutnya, inflasi Jawa Timur di masa yang akan datang akan berada di bawah 4 persen.

"Banyak hal yang akan terjadi, termasuk dampak negatif juga bisa dirasakan. Tapi, dampak positif akan selalu ada," kata dia.

Kenyataannya, kata Kresnayana, waktu hari ini The Fed menaikkan suku bunga, Indeks Harga Saham Gabungan di Indonesia tetap di angka positif.

Shifting atau pergeseran kecenderungan memang terjadi. Salah satunya terlihat sebagaimana disebutkan oleh Faisal Basri di acara Economic Forum sebelumnya. Terlihatnya peningkatan jumlah tabungan dan cicilan.

Bank Indonesia mencatat peningkatan jumlah tabungan mencapai 17 persen dari tahun-tahun sebelumnya. Sementara, jumlah belanja di barang-barang produksi mengalami penurunan dan bersamaan itu terjadi pula pergeseran pembelian dari toko konvensional ke toko-toko online.

Kresnayana mencontohkan hari belanja online pada tanggal 12 Desember lalu yang menghasilkan transaksi 3 triliun dalam sehari. Menurut dia, itu beberapa kali lipat dari nilai transaksi di pusat perbelanjaan selama sebulan.

Saat diskusi dibuka seorang peserta bernama Gunawan pengusaha grosir produk rumah tangga atau warehouse di Pasar Turi mengeluhkan jika penjualan produknya memang mengalami penurunan.

"Dulu banyak konsumen yang langsung membeli ke Pasar Turi, termasuk ke toko saya. Ya, istilahnya duit itu sampai dibuang-buang. Sekarang, rasanya kejadian seperti sudah sangat jarang," kata Gunawan.

Kresnayana mengatakan hal tersebut menunjukkan tanda jika sekarang produsen mulai punya akses langsung ke konsumen tanpa melewati grosir atau pengecer.

Bagi pengusaha seperti Gunawan, Kresnayana mengatakan perlu ada cara baru untuk memasarkan produknya.

"Cara distribusi sekarang sudah tidak bisa mengandalkan mitra bisnis, tapi mitra sosial. Komunitas. Karena orientasinya sekarang sudah orientasi komunal," kata Kresnayana.

Dia mencontohkan, bagaimana saat ini orang membeli produk seperti Tupperware yang tidak lagi melihat harganya karena dipasarkan melalui arisan dan lain sebagainya.

Kresnayana Yahya juga memberikan data-data berkaitan beberapa sektor usaha yang mengalami tren kenaikan dalam waktu enam tahun terakhir. Antara lain sektor usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, sektor informasi dan komunikasi, transportasi dan pergudangan, jasa keuangan dan asuransi, dan sedikit di jasa kesehatan dan kegiatan sosial.

Dari data-data itu, Kresnayana Yahya menyimpulkan enam tahun terakhir ini dukungan pertumbuhan yang paling kuat dari sektor jasa. Namun menurutnya, sektor industri di Jawa Timur masih cukup potensial. (den/ang/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.