EKONOMI BISNIS

Ibukota Indonesia Timur Geser ke Surabaya Dipicu Pesatnya Ekonomi Jatim

Laporan Dwi Yuli Handayani | Senin, 06 Mei 2013 | 15:48 WIB
suarasurabaya.net - Perkembangan pesat ekonomi di Jawa Timur yang terjadi sejak tahun 1990 menyebabkan ibukota Indonesia Timur yang dulunya di Makassar berpindah di Surabaya.

Rizal Ramli ekonom yang juga mantan Menko Ekuin saat berbincang dengan suarasurabaya.net di sela-sela acara ulang tahun Majalah Surabaya City Guide di Kampoeng Media, Senin (6/5/2013) mengatakan, ekonomi di Jawa Timur salah satu ekonomi paling besar di Indonesia. Sejak belasan tahun lalu dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia relatif dinamis dan secara umum ekonominya maju.

"Sejak 1990 terjadi pergeseran pusat perdagangan yang tadinya di ibukota Indonesia Timur yakni Makassar sekarang dari segi perdagangan dan ekonomi sudah pindah ke Surabaya," kata dia.

Karena pada masa itu, lanjut dia, terjadi deregulasi perkapalan sehingga yang awalnya setiap kapal dari luar negeri wajib singgah di Medan, Tanjung Priok, Surabaya dan Makassar. Namun sejak 1990 sistem itu dihapuskan dan kapal-kapal hanya mampir ke Tanjung Priok dan Surabaya.

Rizal Ramli juga mengatakan, dampak penghapusan sistem ini Surabaya tidak hanya menjadi pusat perdagangan bagi Jawa Timur tapi juga pusat bagi Indonesia Timur.

"Beberapa tahun mendatang Jawa Timur akan maju karena banyak sumber daya alam yang mendukung yang jika disalurkan ke Jatim maka energi costnya akan jadi lebih murah meskipun jumlah orang miskin di Jatim masih tinggi," ungkap dia.

Di Jawa Timur sendiri memiliki sektor pertanian yang besar dan pernah menjadi gudang beras nomor. Jika sumber irigasi lebih banyak terutama di Jawa Timur bagian selatan maka pertanian, buah-buahan dan holtikultura akan lebih dahsyat.

"Meskipun saat ini impor buah-buahan sangat sulit tapi cuaca dan banyaknya dataran tinggi di Jawa Timur menjadi faktor pendukung peningkatan perekonomian," kata Rizal yang juga mantan Kepala Bulog.

Industri di Jawa Timur menempati urutan nomor 2 di Indonesia dan memungkinkan untuk menjadi lebih besar lagi. Apalagi di Jawa Timur embargo cost lebih murah dan kepadatan arus lalu lintas di Surabaya tidak separah di Jakarta.

"Di Jatim ini orangnya tipe bandel-bandel tapi mau kerja jadi itu bagus sekali tapi juga harus didukung dengan infrastruktur. Dari segi bisnis dan manajemen Surabaya menjadi de facto perdagangan di Jatim," tutur dia.

Rizal menambahkan, dengan cadangan gas dan minyak bumi yang dimiliki Jawa Timur akan membuat biaya energi di Jatim lebih murah dan menarik untuk bidang industri. (dwi/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.