suarasurabaya.net - Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Amerika Serikat menjajaki kerjasama di bidang rekayasa bioteknologi untuk meningkatkan produksi pertanian di Jawa Timur. Kedatangan Dr. Roger N. Beachy Direktur National Institute of Food and Agriculture (NIFA) AS ke Jawa Timur sejak kemarin menandai dimulainya pembahasan yang saling menguntungkan bagi dua pihak.
Hadi Prasetyo Asisten II Pemprov Jatim bidang Ekonomi Pembangunan mengatakan teknologi rekayasa bioteknologi pertanian Indonesia saat ini masih tertinggal dengan negara tetangga, sebut saja Thailand. Negara Gajah Putih itu diebut Hadi mengembangkan teknologi rekayasa biomolekuler yang cukup baik sehingga produk-produk pertaniannya tidak terkendala hama dan cuaca dan bisa dipanen melebihi apa yang bisa dihasilkan produk-produk pertanian Indonesia.
Sedangkan di Indonesia, nilai tukar petaninya masih sangat kecil dibandingkan Thailand. Dengan kerjasama teknologi pertanian itu diharapkan nilai tukar petani meningkat.
Hadi mengaku masih belum tahu bagaimana arah kerjasama ini. Tapi dia berharap AS tidak hanya mengambil manfaat misalnya dengan memanfaatkan keanekaragaman hayati pangan Jawa Timur sekedar untuk keuntungan finansial semata.
"Kami berharap kerjasama ini, terutama terkait benih yang dihasilkan, bukan hanya bersifat siklus tunggal. Artinya, petani seperti tradisi di Jawa Timur, juga bisa memanfaatkan produksi pangan menjadi benih lagi untuk direproduksi," kata dia.
Sementara itu Dr. Roger N. Beachy menyatakan Indonesia utamanya Jawa Timur memang jadi kawasan yang cukup menarik untuk pengembangan bioteknologi pertqnian. Ini karena keanekaragaman hayati pangan di Jawa Timur cukup unik. "Buah-buah tropis dari Jawa Timur sangat berharga di Amerika Serikat. Beras di sini juga jauh lebih enak rasanya daripada yang ada di AS," kata dia.
Dari sisi keimuan, kata Beachy, kerjasama ini juga akan menambah perbendaharaan gen tanaman pangan yang diteliti para ilmuwan berbagai negara. "Perlu diketahui, tidak ada yang boleh dan bisa mendominasi perbendaharaan gen tanaman pangan yang sudah diteliti. Artinya, setiap peneliti boleh mengakses setiap gen yang ada untuk penelitian mereka. Seperti yang dilakukan peneliti dari Unej, menghasilkan tebu yang tahan panas dari gen tebu Jepang. Ini bisa terjadi karena terbukanya sistem pertukaran gen itu," kata dia.
Beachy menawarkan kerjasama penelitian dengan Pemprov Jatim melalui pertukaran ilmuwan dan mahasiswa. Sejumlah kampus di AS, kata dia, punya spesialisasi tertentu di keahlian tanaman pangan sehingga ilmuwan dan mahasiswa Indonesia bisa memilihnya. "Diantara yang cukup banyak dikembangkan di AS adalah tanaman ubi rambat, singkong, jagung, dan beras," paparnya.(edy)