Ekonomi Bisnis
27 Januari 2012, 11:46:51| Laporan Iping Supingah
Rupiah Melemah Tipis
suarasurabaya.net| Mata uang rupiah pada Jumat (27/1/2012) pagi kembali melemah meski tipis lima poin terhadap dolar AS setelah sempat menguat cukup signifikan pada dua hari lalu.
Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Jumat pagi bergerak melemah lima poin ke posisi Rp8.960 dibanding sebelumnya Rp8.955 per dolar AS.
"Setelah menguat tajam pada perdagangan dua hari lalu, mata uang rupiah mengalami tekanan pada hari ini," kata Lana Soelistianingsih analis Samuel Sekuritas, di Jakarta, Jumat, seperti dilansir Antara.
Ia menambahkan, nilai tukar dalam negeri diperkirakan masih berpotensi melemah menuju kisaran antara Rp8.970 sampai dengan Rp9.000 per dolar AS pada hari ini.
Ia mengatakan, rencana Bank Sentral AS (the Fed) yang memperpanjang suku bunga rendah 0-0,25 persen hingga tahun 2014 dan target inflasi jangka panjang sebesar dua persen mendorong nilai tukar dolar AS menguat, dan rupiah melemah.
Ia menambahkan, kebijakan the Fed dua hari lalu juga membuat harga komoditas mengalami kenaikkan, terutama komoditas baja seperti nikel, tembaga, emas dan minyak mentah.
"Kebijakan the Fed yang menguntungkan komoditas ini juga terjadi pada kuartal pertama 2010 lalu. Kebijakan the Fed itu mengindikasikan kebijakan moneter ekspansi dengan terus menginjeksi publik dengan tambahan uang beredar," katanya.
Kendati tidak disebutkan besaran injeksi itu, kata Lana, namun kebijakan the Fed untuk terus melakukan pembelian obligasi dalam kerangka operation twist memberi sinyal tambahan likuiditas.
Reza priyambada Managing Research Indosurya Asset Management, menambahkan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga dipicu oleh sentimen belum adanya titik temu antara kreditur swasta Yunani dengan pejabat Eropa yang menolak tawaran bond swap sehingga muncul kekhawatiran Yunani akan jatuh ke wilayah default (gagal bayar).
Ia mengemukakan, peringkat Indonesia di level layak investasi (investment grade) yang diberikan Moody's juga belum dapat memberi sentimen positif berkelanjutan bagi nilai tukar dalam negeri.
"Pemberian level investment grade yang diberikan Moody's pada peringkat utang Indonesia belum dapat membawa tren pergerakan rupiah ke arah yang lebih positif terhadap dolar AS, pengaruh sentimen negatif saat ini lebih kuat sehingga menyeret rupiah kembali tertekan," ujarnya.(ant/ipg)